Ads 468x60px

Senin, 10 Oktober 2011

Si Penjaga Malam (Malam meronda, siang menarik becak)


Malam sudah semakin larut. Dengan jaket kusam yang dikenakannya, Seorang Penjaga Malam berusaha menahan dinginnya malam. Sesekali matanya menyapu atmosfer kompleks perumahan Tamora Indah, di Kelurahan Bangun Sari, Kecamatan Tanjungmorawa, sekitar 15 km dari Medan, Sumatra Utara, yang dijaganya malam itu. Dan, ketika jam menunjukkan pukul 00.00, laki-laki itu bangkit dari dalam pos penjagaan yang didudukinya.

Tak lama kemudian, terdengar suara pukulan lonceng sebanyak 12 kali menggema memecah keheningan malam. Rupanya,  baru saja memukul lonceng sebagai pertanda waktu, sekaligus dimulainya kerja rutin yang dilakoninya sebagai penjaga malam di kompleks perumahan itu. "Sudah 20 tahun lebih saya menggeluti pekerjaan ini," papar seorang lelaki berusia 71 tahun ini.
Dengan usianya yang sudah mulai memasuki renta itu,  tampak  masih semangat memikul tanggung jawab mengamankan perumahan kluster bersama seorang anak laki-lakinya. Sebelum bekerja di perumahan yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya ini, dia bekerja sebagai penjaga malam di sebuah kelenteng atau yang dikenal sebagai tempat pembakaran mayat umat Buddha (krematorium) selama 12 tahun.
Artinya, pekerjaan sebagai penjaga malam ini paling lama dilakoninya ketimbang sebagai tukang becak dan mocok-mocok-serabutan-saat dia mulai tinggal di kawasan Tanjungmorawa pada 1952 lalu. "Waktu itu belum ada perumahan seperti sekarang ini," kenangnya.
Dengan hanya mengandalkan tamatan sekolah rakyat (SR), Rakiman yang dikenal di kampungnya sebagai Kek Uhu, sadar tak banyak yang bisa dilakukannya untuk mencari pekerjaan. Tak lama bekerja sebagai tukang becak, ayah dari 12 anak ini lalu memilih bekerja sebagai penjaga malam.
"Pekerjaan ini saya sukai karena ayah saya juga kerjanya seperti ini, yakni sebagai centeng kuli kontrak perkebunan di Aceh," papar si Penjaga Malam, menceritakan latar belakang orang tuanya yang berasal dari Jawa.
Mungkin, semangat sebagai penjaga keamanan itulah yang menurun kepada dirinya, sehingga dia merasa enjoy dengan pekerjaan yang membutuhkan nyali ini. Menurut sang penjaga malam tersebut, bekerja sebagai penjaga malam sangat dinikmatinya. "Entah mengapa rasanya begitu bangga kalau bisa memberikan rasa aman kepada orang lain," tandasnya.
Padahal, dia mengaku pekerjaan ini tidak ringan. Selain berisiko menghadapi penjahat, salah-salah malah bisa menjadi sasaran kemarahan dan umpatan warga, jika misalnya terjadi peristiwa kejahatan pencurian atau perampokan di permukiman tempat dia bekerja.
Selama menjadi penjaga, Ia mengaku, tiga kali kebobolan. Yakni, kasus pencurian saat masih bekerja di kelenteng dan menjaga perumahan Tamora Indah. Tapi, kata laki-laki yang berjalan agak pincang ini, itu terjadi tidak semata-mata karena kelengahannya. Pasalnya, pencuri bisa masuk ke dalam kelenteng tanpa merusak kunci. "Berarti, ada kunci lain yang dipakai masuk," paparnya. Sedangkan pencurian di perumahan, berhasil dipergoki dan malah salah seorang pencurinya berhasil ditangkap.
Berdasarkan pengalaman itu, Ia selalu mengingatkan pemilik rumah atau penyewa agar selalu mengganti kunci pintunya dengan yang baru. Alasannya, kunci yang lama bisa saja telah diduplikasi oleh orang lain. Ia juga selalu mengingatkan agar jangan mengundang pencuri dengan memperlihatkan barang-barang berharga di dalam pekarangan atau di dalam rumah.
Menurut Si Penjaga malam, pencuri masuk karena sudah mempelajari ada kelemahan dalam sistem pengamanan dalam rumah. Kalau untuk rumah yang menggunakan sistem pengamanan yang baik, antara lain, dengan menggunakan teralis besi, akan menyulitkan pencuri. "Jadi, sesungguhnya pengamanan yang baik itu adalah dari pemilik rumah sendiri. Sedangkan, penjaga malam hanya memperkecil ruang gerak pelaku kejahatan," tandasnya.
Dengan kata lain, menurut penjaga Malam, sekuat atau sebanyak apa pun penjagaan, akan tetap terbuka peluang bagi pelaku kejahatan jika tidak ada sistem pengamanan oleh pemilik rumah itu sendiri. Ia menunjuk, terlalu banyak celah untuk masuk ke rumah seseorang, meski di dalam kompleks yang sudah dilengkapi dengan portal atau pos penjagaan. Pasalnya, kelengkapan penjagaan itu tidak efektif bagi penjahat yang tidak menggunakan kendaraan.
Baginya, gerak-gerik seseorang bisa juga dipakai untuk menangkal kejahatan. Misalnya, kalau ada tamu yang menanyai rumah warga, tapi yang bersangkutan tidak banyak kenal dengan anggota keluarga atau tanda-tanda lain di rumah yang dituju. Kalau menemukan kasus seperti ini, sang penjaga biasanya akan mengonfirmasi dulu sebelum membolehkan tamu bersangkutan langsung menemui warga.
Cara lain untuk memperkecil ruang gerak penjahat, menurut sang Penjaga, adalah dengan cara memukul lonceng pada setiap jam-sebagaimana rutin dilakukannya-yang diikuti dengan melakukan ronda ke sudut-sudut jalan yang dianggap rawan. "Dengan suara lonceng yang kuat, diharapkan warga terjaga sehingga bisa langsung melakukan pengamanan terhadap rumahnya sendiri," ucapnya.
Untuk melakukan semua itu, sang penjaga mengaku, tidak dibekali senjata apa pun, kecuali hanya sebuah senter. Sebab, menurut kakek dari 12 cucu ini, senjata apa pun tidak akan banyak artinya kalau hanya seorang diri menghadapi penjahat-yang jumlahnya biasanya jauh lebih banyak. Ia mengaku, lebih memilih berteriak untuk memancing perhatian orang banyak jika memergoki penjahat ketimbang menghadapi penjahat dengan menggunakan senjata.
sang penjaga malam tampaknya sadar dan berharap, penjaga seusia dia memang jangan lagi diposisikan untuk melumpuhkan penjahat secara berhadap-hadapan. "Fungsi kami hanya memperkecil ruang gerak kejahatan," paparnya.
Kendati demikian, menurut dia, jika dilakukan secara maksimal dan ikhlas, hasilnya juga tidak akan mengecewakan. Buktinya, tenaganya masih terus dipakai, meski usianya makin terus menapak ringkih.
Toh, ia merasa masih kuat untuk melaksanakan pekerjaan yang banyak mengandung risiko tersebut. Pasalnya, dia mengaku, masih tahan menghadapi angin malam dan beratnya kantuk. Resepnya? "Kalau melawan ngantuk cukup tidur sebelum jaga selama dua jam. Lalu, mengisi waktu dengan nonton tivi," ujarnya.
Sebuah televisi ukuran 14 inci hitam putih bekas pakai sengaja dibelinya seharga Rp 100 ribu. Acara televisi ketika jaga yang sering ditontonnya adalah pertandingan bola dan pengajian menjelang waktu Subuh.
Meski digaji hanya Rp 500 ribu setiap bulan, sang penjaga malam tidak pernah terpikir untuk melepas pekerjaannya ini. Sebab, baginya yang penting ada aktivitas. "Kalau tidak ada kegiatan malah badan saya terasa sakit. Jadi, pekerjaan ini justru membuat saya sehat," katanya.
Pada siang hari, dia bahkan mengisi kegiatannya dengan menarik becak khusus anak sekolah. Total dari pekerjaan sebagai penjaga dan penarik becak, dia memperoleh penghasilan Rp 1,5 juta per bulan.
Dengan penghasilan sebesar itu, ia merasa cukup untuk bisa bertahan hidup bersama anaknya yang paling bungsu, yang masih menjadi tanggungannya. sang penjaga malam bertekad, akan berusaha terus menghidupi dirinya dengan pekerjaan ini, meski seluruh anaknya sudah lama meminta agar berhenti bekerja. "Rasanya lebih nikmati hidup dari hasil sendiri. Biarlah, sampai usia nanti menghentikan saya," katanya lirih

0 Masukan:

Poskan Komentar